Biaya Kesempatan yang hilang.
Pada suatu kesempatan saya pernah mencoba sebuah aplikasi. Saya merasa ada suatu yang salah dengan proses dari aplikasi itu.
Untuk memberikan ilustrasi tentang proses yang terjadi misalkan pada tanggal 1 April 2007, Tuan A membuka sebuah toko komputer dengan modal Rp 10 juta. Pada tanggal 5 April, ada seorang kenalan yang datang kepadanya untuk merakitkan satu buah komputer. Karena ia tidak mempunyai mata uang USD, ia meminta kepada pemasoknya agar transaksi dilakukan dalam Rupiah. Tuan A menghabiskan Rp 6.500.000 untuk membuat satu set komputer.
Setelah komputer selesai dirakit pada tanggal 7 April, Tuan A menjual komputer rakitan itu dengan harga Rp 6.700.000.  Namun kenalannya ingin membayar transaksi dengan USD. Kurs USD (Kurs jual USD tuan A pada sebuah valuta asing) pada tanggal tersebut adalah Rp 10,000/USD, sehingga tuan A menjual komputer rakitan itu dengan harga USD 670.
Berapa laba kotor tuan A?
Kemudian pada tanggal 8 April, kurs USD menjadi Rp 9000. Berapa laba kotor tuan A?.
Kemudian pada tanggal 9 April, kurs USD menjadi Rp 8750. Berapa laba kotor tuan A?.
Mudah mudahan anda setuju dengan saya, bahwa saya tidak bisa menghitungnya sebelum tuan A itu benar benar menukarkan mata uang USD hasil pendapatannya ke Rupiah. Berapapun kurs yang ada pada saat itu tidak bisa dijadikan patokan sebelum tuan A benar benar menukarkan mata uang USD nya ke dalam mata uang Rupiah.Â
Inilah yang dinamakan biaya kesempatan (”Opportunity Cost”) yang hilang karena bila saja Tuan A itu langsung menukarkan USD 670 pada saat kursnya Rp 10.000/USD, tuan A itu masih mendapatkan keuntungan sebenar Rp 200.000.Â
Sebelum mata uang USD nya ditukarkan maka yang ada adalah hanya “Opportunity Cost”.
Bagaimana menurut pendapat anda?
Posted: September 5th, 2007 under POS Proses.
Comments: none
