Kami mendaftar seminar yang diadakan Microsoft Indonesia yang rutin diadakan untuk ISV - ISV’ Care. ISV adalah singkatan Independent Software Vendor.
Agenda yang dibicarakan adalah:
1. Software + Services oleh Jonah Stephen, DPE Lead, Microsoft Indonesia
2. ISV in Brazil oleh Marcos DPE Lead dari Brazil
3. Introduction to C# 3.0
4. Software Configuration Management Dandy Bappedyanto, Software Architect, PT Freeport Indonesia.
5. Performance Testing Guidance for web Application, Risman Adnan, ISV Lead.
Agenda 1.
Saya sering membaca Software + Services ini karena sering mendapat Newsletter dari Microsoft. Tetapi hanya setelah mendengar langsung dari presentasi bapak Jonah Stephen, orang India, maka semuanya menjadi jelas.  Secara filosopis, bapak Jonah berkomentar bahwa konsep itu adalah sebuah payung. Betapa benarnya ia. Karena komentarnya tentang payung maka saya juga ingat tentang filosofi kami yaitu “topi” - CAP(conduct, AIM and Product). Tidak terlalu beda bukan kegunaan payung dan topi untuk mengatasi serangan hujan atau sengatan panas matahari.
Agenda 2.
Bapak Marcos dari Brazil menerangkan dan menceritakan tentang ISV di Brazil bagaimana kompaknya mereka dengan membuat assosiasi pengembang yang solid. Marcos menceritakan bagaimana kesulitan inflasi di Brazil pada akhirnya menjadi berkah juga bagi mereka dengan pikiran positif karena setelah masalah sebesar itu, apa lagi yang harus ditakutkan? Marcos juga menceritakan bagaimana universitas di sana telah memberikan kontribusinya bagi ekspor piranti lunak Brazil ke dunia. Berpikir positif dan bekerja keras, katanya. Saya tidak perlu berkomentar lagi bagaimana benarnya dia.
Kemudian saya berpikir dan bertanya, bisa kepada diri sendiri dan kepada anda sekalian yang membaca, apa masalahnya sehingga ISV di Indonesia ini tidak bisa lebih maju dari negara-negara lain dan memberikan kontribusi bagi negara kita dalam hal ekspor misalnya?
Kita tidak kekurangan orang-orang pintar. Lihatlah bagaimana prestasi-prestasi putra bangsa di dunia dalam olimpiade. Untuk banyak sekolah-sekolah menengah atas di Indonesia, pelajaran matematika, fisika dan kimia jauh lebih maju dan sulit daripada sekolah di negara maju, baik di Singapore, Amerika dan lain sebagainya.�
Permasalahannya (Menurut saya).
A. Entrepreneursip (Jiwa kewirausahaan).
B. Dukungan Infrastuktur.
C. Assosiasi. Â
Hal yang pertama, sebagaimana pintarnya seseorang di sekolah, ketika kita di dunia nyata, maka kita memerlukan banyak sekali orang-orang yang berjiwa kewirausahaan sejati, yang berani mengambil risiko untuk kemungkinan mendapatkan imbalan di masa kemudian, yang mungkin masih jauh.
Sayangnya jiwa kewirausahaan tidak hanya dibentuk dengan IQ tetapi menurut saya lebih kepada, mengutip buku “The World is Flat” hal 342, CQ + PQ > IQ, di mana CQ= Curious Quotient PQ= Passion Quotient dan IQ= Intelligent Quotient.Â
Keingintahuan dan hasrat yang menggebu dapat mendorong seseorang untuk menjadi berani mengambil risiko yang besar secara relatif menurut keadaannya masing-masing. Ketika kita di dunia nyata dengan permasalahan yang jauh lebih kompleks dari hanya masalah-masalah di sekolah baik tingkat S1, S2 atau S3, seseorang dengan IQ yang lebih tinggi namun tidak mempunyai semangat akan segera menyerah. Lain dengan seseorang yang mempunyai hasrat yang besar yang tidak gampang menyerah walaupun untuk itu dibutuhkan tahunan. Saya mempunyai contoh orang di Indonesia ini yang bisa dijadikan teladan bagaimana tingkat pendidikan yang rendah, hanya lulus SMP, berani mengambil risiko yang besar dan terus mengusahakan pemecahannya sehingga diperlukan waktu sembilan tahun untuk membedah bibir kerang dengan benar. Banyak sekali contoh-contohnya bagaimana hasrat dan keingintahuan dapat mendorong seseorang berprestasi menghasilkan sesuatu yang hampir mustahil menurut orang banyak.
Hal yang kedua, dukungan Infrastruktur. Adanya universitas TI dan aturan-aturan penanaman modal asing di sektor TI beserta kepastian hukumnya. Saya tidak perlu berkomentar banyak tentang ini karena sudah dengan sangat baik dijelaskan dalam buku “The World is Flat” karya Thomas L Friedman.Â
Jika dalam kata pengantarnya bapak Faisal Basri berkomentar bahwa para petinggi negara, birokrat dan politisi adalah kalangan yang paling mendesak untuk membaca buku ini, maka saya perlu menambahkan para kepala sekolah SD, SMP, SMA dan tingkat universitas, juga mendesak perlu membaca buku ini. Mudah-mudahan mereka tidak mengatakan “ada gambarnya tidak?” untuk menyatakan ketakutan atau keengganannya membaca buku.   Â
Ketiga, asosiasi memegang peranan yang sangat besar ketika kita menghadapi pemasok, pemerintah ataupun konsumen dari luar. Ketika kita hanya satu perusahaan dengan hanya beberapa orang pegawai berhadapan dengan pemasok, pemerintah atau konsumen besar maka kita tidak mempunyai kekuatan. Lain halnya bila kumpulan-kumpulan perusahaan itu bergabung menjadi satu untuk satu kepentingan yang lebih besar.
Microsoft atau Open Source? Maka saya katakan Indonesia. Untuk mereka-mereka yang masih berargumentasi tentang teknologi Microsoft atau Open Source maka saya juga menganjurkan untuk membaca buku ini agar wawasan kita menjadi lebih luas bukan hanya pada teknologi tetapi lebih kepada kepentingan yang jauh lebih besar yaitu Indonesia. Bagaimana kita dalam jangka panjang bisa memberikan sumbangsih kepada negara kita dalam penciptaan lapangan kerja, mengejar ketertinggalan kita dalam bidang TI dari negara-negara lain seperti Brazil, India dan China. Bagi pengembang Microsoft yang telah menginvestasikan waktunya bertahun-tahun untuk mempelajari teknologi Microsoft maka akan kelihatan tidak masuk akal jika mereka mau begitu saja merubah peralatannya, begitu juga sebaliknya.
Kami pernah mengikuti pameran Ristek dengan tema “Open Source” yang diadakan oleh kementrian Ristek, dan majalah Biskom. Mudah-mudahan nanti temanya menjadi lebih luas seperti misalnya “Mengejar Ketertinggalan”.
Agenda ketiga s/d lima.
Agenda ini lebih pada aspek teknologi sehingga tidak akan saya ceritakan lebih lanjut.
Penutup.
Dalam penutupannya, bapak Risman melontarkan pertanyaan “Bagaimana Memindahkan Gunung Fuji di Jepang ke Indonesia” dan berapa lama?
Maka jawaban saya hanya satu kata “Percaya”. Berapa Lama?, maka saya katakan tergantung tingkat kepercayaan kita. Di dalam buku 8th Habit karya Steven Covey ada istilah SQ (Spiritual Quotient). Menghubungkan dengan SQ, maka jika kita tidak bimbang maka gunung itu akan berpindah dalam seketika. Namun apa nikmatnya kekuatan dan kemampuan itu tanpa suatu proses. Justru kenikmatan kerja dan karya manusia dalam tingkat yang tertinggi adalah pada prosesnya dan bukan pada hasilnya.Â
Pertanyaan ini bersifat filosofis dimana arti kata memindahkan gunung lebih kepada tingkat kesulitan dari suatu permasalahan. Dan jawaban saya tetap sama bagaimana memecahkan permasalahan yang sulit adalah dengan kata percaya. Jika tingkat kepercayaan kita rendah maka akan memakan waktu yang sangat lama atau bahkan tidak akan pernah tercapai karena mungkin kita memberikan modal atau usaha kita dalam tingkat yang rendah atau berpindah-pindah usaha. Jika tingkat kepercayaan kita besar, maka kita mungkin akan mengkonsentrasikan segala uang dan usaha kita pada pemecahan permasalahan itu. Secara jujur, tingkat kepercayaan kami belum sebesar itu.
Kami berterima kasih atas program ISV’s care yang diadakan Microsoft Indonesia, yang telah memberikan perspektif baru yang menyegarkan.
Akhir kata maka saya akan merubah pertanyaan di atas menjadi, Bagaimana Mengejar Ketertinggalan Indonesia dari India dan China pada bidang TI?.Â
NB:
Terima kasih juga kepada penerbit Dian Rakyat yang telah menterjemahkan buku yang hebat itu “The word is flat” dengan tampa cacat dimana mereka tidak menterjemahkannya secara kata demi kata tetapi dalam konteks sehingga mudah dimengerti.
Posted: September 3rd, 2007 under Filosofi.
Comments: 2